Sebuah Agama yang Tertransformasi
Buddhisme tiba di Cina sekitar abad ke-1 M dan mengalami salah satu transformasi budaya paling dramatis dalam sejarah agama. Orang-orang Cina tidak hanya mengadopsi Buddhisme — mereka mengubahnya, menciptakan bentuk-bentuk yang khas Cina yang akan menyebar di seluruh Asia Timur. Buddhisme India menekankan pembebasan individu melalui penarikan monastik dari dunia. Buddhisme Cina menambahkan bakti filial (孝 xiào), pemujaan nenek moyang, dan kemungkinan bahwa siapa saja — petani, pedagang, atau nenek yang tidak bisa baca — dapat mencapai keselamatan.
Perjalanan Buddhisme ke Cina adalah studi kasus tentang bagaimana peradaban besar menyerap ide asing tanpa diserap oleh ide tersebut. Cina mengambil apa yang dibutuhkannya, membuang apa yang tidak sesuai, dan memproduksi sesuatu yang tidak dapat diciptakan oleh India maupun Cina sendirian.
Inovasi Kunci Cina
Buddhisme Chan (Zen) (禅宗 Chánzōng)
Inovasi Buddhis terbesar di Cina, dan mungkin kontribusi terbesar Cina untuk agama dunia: - Menekankan pengalaman langsung daripada studi kitab — "Tunjukkan langsung ke pikiran; lihat sifatmu dan jadilah Buddha" (直指人心,见性成佛 zhí zhǐ rénxīn, jiàn xìng chéng fó) - Dipengaruhi oleh konsep Daois tentang alami (自然 zìrán) dan spontanitas - Menciptakan gongan (公案 gōng'àn, dikenal dalam bahasa Jepang sebagai "koans") — teka-teki paradoks untuk meditasi. "Apa suara satu tangan bertepuk?" adalah pertanyaan Chan. - Legenda pendirian: Bodhidharma (达摩 Dámó), seorang biksu India, menghabiskan sembilan tahun menatap dinding di Kuil Shaolin (少林寺 Shàolín Sì). Gabungan antara meditasi India dan keras kepala Cina menghasilkan Buddhisme Chan. - Menyebar ke Jepang sebagai Zen, Korea sebagai Seon, Vietnam sebagai ThiềnBuddhisme Chan adalah apa yang terjadi ketika pragmatisme Cina bertemu metafisika India: daripada mempelajari sepuluh ribu sutra, duduklah, diam, dan lihatlah pikiranmu sendiri. Ketegasan ini sangat Cina.