Skip to contentSkip to contentSkip to content

TITLE: Dewa Pencipta Tiongkok: Dari Pangu hingga Nuwa

· Immortal Scholar \u00b7 5 min read

TITLE: Dewa Pencipta Tiongkok: Dari Pangu hingga Nuwa EXCERPT: Dari Pangu hingga Nuwa ---

Dewa Pencipta Tiongkok: Dari Pangu hingga Nuwa

Tradisi kosmologis Tiongkok menyajikan sebuah kisah penciptaan yang menarik, yang berbeda secara mencolok dari pencipta tunggal dalam tradisi Abrahamik. Alih-alih satu dewa yang mahakuasa yang menciptakan alam semesta dengan kata-kata, mitologi Tiongkok menghadirkan banyak sosok pencipta, masing-masing berkontribusi dengan elemen-elemen yang berbeda dalam pembentukan kosmos, bumi, dan umat manusia itu sendiri. Di tengah-tengah narasi ini terdapat dua sosok raksasa: Pangu (盤古 Pángǔ), yang memisahkan langit dari bumi, dan Nuwa (女媧 Nǚwā), yang menciptakan umat manusia dan memperbaiki langit yang rusak.

Kekacauan Primer: Hundun

Sebelum menelaah para pencipta itu sendiri, kita harus memahami apa yang ada sebelum penciptaan. Kosmologi Tiongkok dimulai dengan hundun (混沌 hùndùn), kekacauan primordial—suatu keadaan yang tidak terbedakan di mana langit dan bumi, yin dan yang, terang dan gelap ada sebagai satu massa tanpa bentuk. Konsep ini muncul dalam berbagai teks filosofis dan mitologis Tiongkok, mewakili keadaan potensi tertinggi sebelum diferensiasi.

Huainanzi (淮南子 Huáinánzǐ), sebuah kumpulan filsafat dari abad ke-2 SM, menggambarkan keadaan primordial ini: "Sebelum langit dan bumi mengambil bentuk, hanya ada kekacauan amorf. Ini disebut Awal yang Agung." Kekacauan ini bukanlah ketiadaan yang hampa, tetapi lebih merupakan telur kosmik yang mengandung semua kemungkinan, menunggu kekuatan yang akan memecahkannya dan menggerakkan penciptaan.

Pangu: Sang Raksasa Kosmik

Kelahiran dari Kekacauan

Pangu muncul sebagai dewa pencipta paling terkenal di Tiongkok, meskipun mitologinya muncul relatif terlambat dalam tradisi sastra Tiongkok—akun paling awal yang mendetail berasal dari Sanwu Liji (三五歷紀 Sānwǔ Lìjì), sebuah teks abad ke-3 M yang ditulis oleh Xu Zheng. Menurut narasi ini, Pangu lahir di dalam telur kosmik kekacauan, tidur selama delapan belas ribu tahun sambil tumbuh dalam kekuatan dan ukuran.

Ketika Pangu akhirnya terbangun, dia mendapati dirinya terjebak dalam kegelapan di dalam telur. Merasa frustrasi oleh keterikatan itu, dia mengambil sebuah kapak besar (beberapa versi mengatakan dia menggunakan tangan telanjangnya atau pahat) dan memukul kekacauan di sekelilingnya. Elemen-elemen yang lebih ringan dan murni—kekuatan yang (陽 yáng)—naik ke atas menjadi langit, sementara elemen-elemen yang lebih berat dan keruh—kekuatan yin (陰 yīn)—turun ke bawah membentuk bumi.

Pemisahan Langit dan Bumi

Namun pekerjaan Pangu baru saja dimulai. Khawatir bahwa langit dan bumi akan runtuh kembali ke dalam kekacauan, dia memposisikan dirinya di antara keduanya, kepalanya menopang langit dan kakinya tegak di tanah. Setiap hari, langit naik sepuluh kaki lebih tinggi, bumi tumbuh sepuluh kaki lebih tebal, dan Pangu sendiri tumbuh sepuluh kaki lebih tinggi. Ini terus berlangsung selama delapan belas ribu tahun lagi sampai pemisahan itu menjadi permanen dan stabil.

Angka delapan belas ribu muncul berulang kali dalam mitologi Pangu, mencerminkan preferensi kosmologis Tiongkok untuk skala temporal yang luas dan signifikansi angka sembilan (九 jiǔ) dalam numerologi Tiongkok—delapan belas ribu adalah kelipatan yang menyiratkan penyelesaian dan kesempurnaan kosmik.

Pengorbanan Tubuh

Setelah tugas monumental pemisahannya, Pangu, yang kelelahan dari pekerjaannya yang kosmik, akhirnya mati. Namun kematiannya bukanlah akhir—itu adalah transformasi yang melahirkan dunia alami dalam segala keragamannya. Berbagai teks memberikan akun yang berbeda mengenai transformasi ini, tetapi versi yang paling lengkap menggambarkan:

- Napasnya menjadi angin dan awan - Suaranya menjadi guntur - Mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan - Segi empat dan lima ujungnya menjadi Wuyue (五嶽 Wǔyuè), Lima Gunung Suci - Darahnya membentuk sungai dan uratnya menjadi jalan - Otot-ototnya menjadi tanah subur dan rambutnya menjadi bintang - Kulit dan rambut tubuhnya menjadi vegetasi - Giginya dan tulangnya menjadi logam dan batu - Sumsumnya menjadi giok dan mutiara - Keringatnya menjadi hujan dan embun

Beberapa versi menambahkan bahwa parasit di tubuhnya menjadi manusia—sebuah detail yang kemudian dianggap tidak pantas oleh para mitografer dan sering dihilangkan atau ditafsirkan ulang sebagai hewan pertama atau roh.

Variasi Regional

Mitologi Pangu menunjukkan variasi regional yang menarik. Di Tiongkok selatan, terutama di antara etnis minoritas Miao, Yao, dan Zhuang, Pangu muncul dalam mitos penciptaan lokal dengan karakteristik yang berbeda. Beberapa versi menggambarkannya memiliki kepala anjing atau ditemani oleh anjing dewa, mencerminkan tradisi totemik budaya ini. Raja Pangu (盤古王 Pángǔ Wáng) tetap menjadi sosok yang disembah di beberapa kuil di Tiongkok selatan, di mana dia dihormati sebagai dewa nenek moyang.

Nuwa: Sang Dewi Ibu

Sang Pencipta Ilahi

Sementara Pangu membentuk kosmos fisik, Nuwa (女媧 Nǚwā) menghadirkan umat manusia dan menjaga tatanan kosmik. Mitologinya jauh lebih tua daripada Pangu, dengan referensi yang muncul dalam teks-teks dari periode Negara Perang (475-221 SM) dan sebelumnya. Nuwa biasanya digambarkan memiliki kepala manusia dan tubuh atas dengan badan bawah seperti ular, melambangkan hubungannya dengan dunia bumi dan ilahi.

Fengsu Tongyi (風俗通義 Fēngsú Tōngyì), yang disusun oleh Ying Shao pada abad ke-2 M, memberikan akun paling mendetail tentang penciptaan manusia oleh Nuwa. Setelah langit dan bumi terpisah dan dunia alami terbentuk, Nuwa merasa dunia ini terlalu sepi dan kosong. Berjalan di sepanjang tepi Sungai Kuning, dia berlutut dan mulai membentuk sosok dari tanah liat kuning.

Penciptaan Umat Manusia

Nuwa memberikan kehidupan kepada sosok-sosok tanah liat ini, dan mereka menjadi manusia pertama. Senang dengan ciptaannya, dia terus membuat lebih banyak, tetapi pekerjaan itu lambat dan melelahkan. Untuk mempercepat prosesnya, dia mencelupkan seutas tali (atau sulur) ke dalam lumpur dan memutarnya. Tetesan yang terbang menjadi manusia tambahan.

Metode penciptaan ganda ini menjelaskan, menurut mitos, asal mula kelas sosial di Tiongkok kuno. Sosok-sosok yang dibuat dengan hati-hati menjadi bangsawan dan aristokrat.

Tentang Penulis

Pakar Dewa \u2014 Sarjana tradisi keagamaan Tiongkok yang mencakup Taoisme, Buddhisme, dan agama rakyat.

Artikel Terkait

Share:𝕏 TwitterFacebookLinkedInReddit